Hakikat Penelitian dan Perkembangan Penelitian di Indonesia
Materi di bawakan oleh : Muhammad Alimuddin, Mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2015 dari UNJ
Hakikat Penelitian secara garis besar (umum)
berikut adalah hasil karya anak bangsa yang telah di patenkan
Hakikat Penelitian secara garis besar (umum)
HAKIKAT PENELITIAN
Penelitian _(research)_ dapat didefinisikan sebagai usaha
untuk mengembangkan, menemukan, dan menguji kebenaran suatu bidnag ilmu
pengetahuan. Usaha dalam pemecahan masalah tersebut dilakukan melalui telaah
metode-metode ilmiah secara empirik. Proses investigasi dalam suatu penelitian
yang dilakukan oleh seorang peneliti tersebut bersifat sistematis, berdasarkan
kaidah dan tata cara metoda ilmiah.
Menurut Prof. Dr. Sugiyono dalam bukunya mengenai _Metode
Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Mix Method_, beliau mengungkapkan
bahwa metode dalam suatu kegiatan penelitian merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan dan mengungkapkan data dengan maksud dan tujuan tertentu.
Pada dasarnya, penelitian dilakukan karena adanya landasan
yang mendasari studi tentang kemampuan dasar dalam berpikir dan bekerja ilmiah
dalam menghasilkan keluaran berupa suatu proses maupun produk sains. Penelitian
disini dianalogikan sebagai suatu usaha/proses aktif, dinamis, sistematis, dan
eksploratif.
Melakukan kegiatan penelitian berarti:
- melatih kemampuan dasar manusia dalam berfikir dan bekerja ilmiah;
- memberi pemahaman pengetahuan akan suatu artian dari objek yang menarik perhatian;
- berpikir mulai dari hal yang mendasar yang kemudian berkembang dan bertingkat kepada suatu hierarki dalam ilmu pengetahuan;
- mengembangkan pemikiran kritis dan logis;
- membiasakan dalam keteraturan yang sistematis;
- membangun pribadi yang disiplin, jujur, objektif, dan kooperatif.
Menurut Drs. Achmad C. Zubair dalam bukunya mengenai
_Metodologi Penelitian Filsafat_, beliau mengemukakan bahwa ada beberapa
unsur yang termuat dalam suatu metodologi dalam penelitian, yakni sbb:
- Interpretasi; berarti menafsirkan atau membuat tafsiran dengan bertumpu pada evidensi objektif untuk mencapai kebenaran yang autentik.
- Induksi dan Deduksi; berarti bahwa setiap ilmu memiliki siklus yang empiris. Siklus ini terdiri dari beberapa tahapan seperti: Observasi, Induksi, Deduksi, Eksperimen, dan Evaluasi.
- Koheren; berarti meninjau secara utuh suatu kebenaran dari pengetahuan melalui keterkaitan atau hubungan (korelasi), bersifat struktural yang konsisten.
- Holistis; berarti meninjau secara lebih dalam untuk menemukan hakikat kebenaran suatu ilmu secara utuh.
- Idealisasi; berarti penelitian sebagai suatu proses dalam mencapai hasil yang ideal (mendekati kata sempurna).
- Komparasi; berarti suatu usaha dalam membandingkan sifat hakiki dalam suatu objek penelitian sehingga dapat ditelaah lebih tajam dan jelas.
- Heuristika; berarti suatu cara dalam menemukan jalan atau alternatif dalam memecahkan masalah.
- Analogikal; berarti mensituasikan penelitian sebagai sesuatu yang memiliki maksud, nilai, dan arti yang diekspresikan melalui analisis suatu data.
- Deskripsi; berarti ulasan mendetil dari suatu analisis data hasil penelitian.
Perihal ini saya(Muhammad Alimuddin) gunakan sbg pendahuluan,
mengingat urgensi pemahaman atas suatu dasar dalam penelitian adalah wajib.
Ya.. gambar berikut merupakan suatu rancangan dan acuan
kinerja dari Indonesia dalam meningkatkan jati diri dan eksistensi para
peneliti di Indonesia
Di atas adalah grafik data statistik kuantitas daya saing
penelitian dari negara indonesia
Untuk berikutnya, saya akan menekankan kepada potret kondisi
penelitian pada dewasa ini..
Kepala LIPI: Bapak Iskandar Zulkarnain beliau mengungkapkan
bahwa Indonesia akan sulit berkembang dan bersaing dengan negara lain jika
tidak didukung dengan ketersediaan jumlah peneliti. Rendahnya periset di
Indonesia ditengarai menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya dunia
riset di Tanah Air. Beliau juga mengungkapkan bahwa, indikator majunya sebuah
negara dewasa ini sangat tergantung pada penguasaan iptek, bukan hanya
pemanfaatan iptek semata. Oleh karena itu, bila Indonesia ingin menjadi negara
maju, maka jumlah peneliti harus ditingkatkan dan kualitas hasil penelitiannya
juga dioptimalkan. Faktor lain yang turut memengaruhi perkembangan penelitian
di Indonesia dalah jumlah lembaga atau instansi riset yang sangat sedikit di
Indonesia. Amerika Serikat ada 256 sementara di Indonesia hanya kurang dari 10
instansi yang benar-benar mengerjakan riset. Tantangan ke depan adalah
bagaimana ikut melibatkan komunitas masyarakat dalam penelitian.
(seperti yang dimuat dalam harian berikut
http://www.beritasatu.com/sains/336179-lipi-dukungan-pemerintah-untuk-penelitian-sangat-kecil.html)
Pendapat pribadi saya pun juga sependapat dengan bapak
Iskandar Zulkarnain, bahwa riset disini dianalogikan bagaikan jantung ilmu
pengetahuan, dan menjadi alasan mengapa ilmu sains dan teknologi dapat tetap
bertahan memberikan manfaatnya kepada dunia hingga saat ini; karena itu,
seharusnya riset dapat digunakan seoptimal mungkin demi kebaikan umat manusia,
tidak terkecuali khususnya bagi masyarakat yang berada di Indonesia itu
sendiri. Jadi suatu penelitian itu memengaruhi tingkat kemajuan iptek, yang
kemudian dapat dikatakan menjadi indikator penting dari kesuksesan dan kemajuan
suatu negara.
Bapak Mohammad Nasir pun juga menilai kekuatan penelitian di
Indonesia masih kurang bersaing untuk pengembangan dibidang industri,
dibandingkan dengan investasi penelitian lain seperti di bidang pertanian dan
perkebunan, serta kehutanan. Peneliti harus bisa menjawab persoalan ekonomi
negara saat ini. Dikatakan begitu, karena anggaran penelitian tidak banyak maka
Balitbang bisa kerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan riset dan
inovasi.
Seperti yang dilansir pada media publikasi dari LIPI..
Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, telah menyatakan bahwa
“Jumlah Peneliti di Indonesia Harus Ditambah”. Lain halnya dengan ulasan Bapak
Iskandar Zulkarnain, Bapak Mohammad Nasir (menristekdikti) pun juga mengulas
tentang data statistik yang menyatakan bahwa jumlah dan kuantitas peneliti di
Indonesia baru mencapai 550 orang per 1 juta penduduknya, lain halmya dengan
Jepang yang berkisar hingga 5000 orang per 1 juta penduduk dan Israel dengan
6500 orang per 1 juta penduduk.
Beliau juga memaparkan, bahwa dari tahun ke tahun terobosan
dari suatu penelitian di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke
tahunnya. Pun juga banyak dihasilkan karya-karya ilmiah yang mampu bersaing di
dunia Internasional. Namun sangat disayangkan, hasil-hsil penelitian tersebut
masih kurang dirasakan oleh masyarakat. Maka dari itu, Kemenristekdikti
menghimbau bahwa untuk mengintensifkan kembali publikasi dan pengaplikasiannya
melalui beberapa kerjasama antar lembaga penelitian seperti LIPI, dan antar
lembaga perguruan tinggi.
Seperti contohnya yakni penemuan padi yang hasil panennya
lebih berlipat ganda dan tahan akan hama tanaman dengan menggunakan pupuk
terobosan dari LIPI jika dikerjasamakan menjadi suatu proyek besar yang
menggandrungi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian ini, maka hasil
penelitian tersebut dapat diaplikasikan kepada khalayak ramai.
Jadi disini, bapak M. Nasir menekankan untuk mengembangkan
dan menjalin sinergitas antara peneliti terhadap lembaga penelitian dan juga
perguruan tinggi sebagai garda pendorong kemajuan penelitian di Indonesia.
(lihat lebih lengkap di http://lipi.go.id/lipimedia/single/kemenristekdikti:-jumlah-peneliti-di-indonesia-harus-ditambah/12395)
Berikut adalah grafik realisasi anggaran penelitian dan
pengabdian pada masyarakat yang saya dapatkan dari statistic kinerja
kemenristek dikti melalui dosen pembimbing saya di KPM UNJ.
Tanya jawab
Pertanyaan 1
Julian : Sebelumnya saya pribadi ingin menanggapi,
Sebenarnya karya yang dihasilkan oleh peneliti di Indonesia cukup banyak, namun
selama ini yg menjadi hambatan adalah dalam hal mendapatkan paten, jujur
sebagai orang awam saya belum tau mekanismenya mendapatkan paten dan apa saja
yang jadi faktor penghambat untuk mendapatkan paten tersebut ??
Jawaban 1
Saya juga sependapat dengan mas Julian, terhadap kuantitas
dan kualitas penelitian yg dihasilkan oleh pemuda/i Indonesia memiliki daya
saing yang cukup besar di dunia Inernasional saat ini..
Saya juga memperhatikan hal yg sama, bahwa karya cipta
penelitian di Indonesia kurang intensif atas publikasinya dan semestinya pun dr
pihak pemerintah untuk membantu dalam mediasi dan konsolidasi terhadap keberlanjutan
penelitian si peneliti..
Terkait hak paten, prosedur pada hak paten (seingat saya
InsyaAllah benar) dimuat dalam UU No. 14 Tahun 2001. Dan itu juga dimuat di
lamaan website dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi)
Bisa juga mas lihat di lamaan web Dirjen Kekayaan
Intelektual, Disitu dijelaskan tata cara dan prosedur dalam mengurus terkait
hak paten.
Tanggapan pertanyaan 1
hak patent dalam uu no 14 tahun 2001 pasal 1 ayat 1
menjelaskan ttg hak patent adalah hak ekslusif yang di berikan negara kepada
investor atas hasil investasinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu
tertentu melaksanakannya sendiri investasinya tersebut atau memberikan
persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya,
mungkin yg di maksud pertanyaan pertama itu hak cipta, cara
mendapatkan hak cipta terdapat dalam UU No 19 tahun 2002 pasal 35
- direktorat jendral menyelenggarakan pendaftaran ciptaan dan dicatat dalam daftar umum ciptaan
- daftar umum ciptaan dapat dilihat oleh setiap orang tanpa dikenai biaya
- setiap orang dapat memperoleh untuk dirinya sendiri suatu petikan dari daftar umum ciptaan tersebut di kenai biaya
- ketentuan tentanf pendaftara sebagaimana dimaksud pada ayat 1 tidak merupakan kewajiban untuk mendapatkan hak cipta
*redaksi sinar grafika. Undang-undang HAKI Hak kekayaan
Intelektual (jakarta: sinar Grafika. 2003) hlm. 15
Pertanyaan 2
Bayu : "Mengomentari statement Pak Iskandar soal
ketersediaan peneliti. Saat ini mana yang lebih penting, menambah jumlah
peneliti atau meningkatkan follow up dari suatu penelitian?" monggo
ditanggapi terlebih dahulu 2 pertanyaan tersebut.
Jawaban 2
Terimakasih atas pertanyaan dari mas Bayu, dan mohon izin
menjawab
Pendapat saya pribadi, terkait dengan pertanyaan mas bayu
adalah:
- Meningkatkan terlebih dahulu kualitas dari penelitiannya si peneliti itu, karena kelayakan penelitian ini adala suatu hal yg krusial, mengingat terhadap pertanggung jawaban si peneliti terhadap hasil penelitiannya
- hal berikutnya adalah pematenan hasil penelitian dahulu, untuk menjaga dan mempertahankan eksistensi dan keaslian penelitian.
- Kemudian dilanjutkan dengan publikasi hasil karya ciptanya terhadap pengaplikasiannya di real life, karena misi utama penelitian adalah mengembangkan dan mensejahterakan tidak hanya si peneliti, tapi dampaknya dirasakan lsg pada masyarakat
- Setelah kualitas nya sudah dianggap sangat baik, hal yg demikian akan menjadikan produk penelitian di Indonesia akan dikenal dengan baik oleh mancanegara. Eksistensi ini yg akan meningkatkan perhatian dan ketertarikan dunia internasional untuk mengadakan kerjasama dalam penelitian berlanjut. Nah.. hal inilah yg dapat di inisiatifkan oleh pemerintah untuk mendorong penambahan kuantitas peneliti
Pertanyaan 3
Isna : "Menanggapi pernyataan dari kemenristek yg menyebutkan
bahwa jumlah peneliti harus ditambah, sebetulnya sejauh ini seperti apakah
strategi yg sdh diupayakan utk menambah kuantitas peneliti dan apa pula yg
dilakukan utk menanamkan semangat meneliti shg muncul peneliti baru dg gagasan2
baru nya?"
Jawaban 3
Hatur nuhun teh pertanyaannya, mohon izin untuk menanggapi
Strategi nya yg telah saya rasakan adalah dengan memberikan
suatu infografis tentang publikasi penelitian dan aplikasinya..
Dari sinilah, yg saya anggap menjadi stimulan mahasiswa
untuk aktif terjun langsung dan merasakan serunya dan faedah dari melaksanakan
penelitian..
Kemudian, dengan adanya ajang kreasi dan inovasi penelitian
yg di rilis oleh dikti seperti PKM juga memberikan ketertarikan yg mumpuni bagi
mahasiswa
Secara tdk langsung jg terlihat, semangat mahasiswa terus
mengalami kemajuan yang dinamis
Selain itu pula, peran utama dosen dalam memberikan
bimbingan serta artian khusus terhadap urgensi penelitian sangat brperan dalam
mengasah kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis dan logis
Pertanyaan 4
Ramadhan : "Apa beda penelitian dan Filsafat? dan siapa
yang menjadi Bapak penelitian?"
Jawaban 4
Penelitian ini kunciannya adalah bertumpu pada bagaimana si
pelaku penelitian dapat berpikir berdasarkan kaidah cara pemikiran ilmiah,
rasional, empiris, dan sistematis.
Kalau dari filsafat sendiri, dari sepengetahuan saya
filsafat itu adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yg menjunjung tinggi atas
kebenaran yang hakiki
Dan menurut saya, penelitian itu adalah bagaimana cara
seseorang dalam mengungkapkan suatu masalah dan sbg suatu sistem dalam
memecahkan permasalahan
Untuk perbedaannya, sampai saat ini saya belum menemukannya,
dan pada hakikatnya.. disegala cabang ilmu pengetahuan juga syarat akan
filsafat, apapun penelitian dari bidang tertentu menuntut pula kita untuk
berfilsafat
berikut adalah hasil karya anak bangsa yang telah di patenkan







Komentar
Posting Komentar